Breaking News

Asap Karhutla Memburuk, Pemerintah Siapkan Bus Oksigen untuk Warga

 

CARIFAKTA.COM – PALANGKA RAYA, Rabu, 28 Oktober 2026 – Pemerintah Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah, menyediakan bus yang dilengkapi tabung oksigen untuk membantu warga yang mengalami gangguan pernapasan akibat asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Layanan tersebut hadir di tengah memburuknya kualitas udara akibat kebakaran yang melanda sejumlah kawasan di Indonesia. Asap pekat dilaporkan mengganggu aktivitas masyarakat dan meningkatkan keluhan pernapasan, termasuk batuk dan sesak napas.

Reuters melaporkan pada Selasa (27/10/2026), petugas medis di dalam bus memberikan bantuan oksigen kepada warga yang membutuhkan. Layanan ini ditujukan untuk membantu masyarakat yang mengalami kesulitan bernapas atau memerlukan dukungan oksigen di tengah kondisi udara yang tidak sehat.

Penyediaan bus oksigen menjadi salah satu langkah penanganan dampak kesehatan akibat karhutla. Namun, upaya tersebut perlu berjalan bersama penanganan sumber kebakaran dan pemantauan kualitas udara secara berkelanjutan.

Bus Oksigen Layani Warga yang Mengalami Gangguan Pernapasan

Bus oksigen yang disediakan pemerintah daerah dilengkapi tabung oksigen dan tenaga medis. Warga yang datang dapat memperoleh bantuan oksigen dalam waktu singkat sesuai penilaian petugas kesehatan.

Menurut laporan Reuters, layanan tersebut memberikan oksigen melalui selang kecil yang dipasang di hidung selama sekitar lima hingga sepuluh menit untuk setiap sesi. Petugas juga mencatat informasi pasien yang datang dengan keluhan pernapasan.

Dinas Kesehatan Kalimantan Tengah menjelaskan melalui media sosial bahwa layanan itu ditujukan untuk membantu masyarakat yang mengalami gangguan pernapasan atau membutuhkan dukungan oksigen ketika kualitas udara memburuk.

Meski demikian, layanan tersebut bukan pengganti pemeriksaan dan penanganan medis bagi warga dengan gejala berat. Masyarakat yang mengalami sesak napas serius perlu segera mendapatkan pertolongan di fasilitas kesehatan.

Ratusan Ribu Kasus Gangguan Pernapasan Dilaporkan

Dampak kesehatan akibat asap karhutla menjadi perhatian karena jumlah keluhan pernapasan terus meningkat.

Dalam laporan yang diterbitkan pada 27 Oktober 2026, Reuters mengutip data Kementerian Kesehatan yang mencatat sekitar 350.000 kasus gangguan pernapasan terkait kebakaran selama periode Agustus hingga 25 Oktober 2026. Dari jumlah tersebut, sekitar 31.000 kasus dilaporkan di Kalimantan Tengah.

Angka tersebut menggambarkan besarnya beban kesehatan yang muncul selama musim kebakaran. Namun, data itu merupakan jumlah kasus yang dilaporkan dan tidak serta-merta berarti seluruh pasien mengalami tingkat keparahan yang sama.

Paparan asap dapat memicu batuk, iritasi mata, tenggorokan terasa tidak nyaman, hingga memperburuk kondisi orang yang memiliki penyakit pernapasan. Anak-anak, lansia, ibu hamil, dan orang dengan penyakit tertentu perlu memberikan perhatian lebih terhadap kualitas udara.

Warga Diminta Mengurangi Paparan Asap

Di tengah kondisi udara yang tidak sehat, masyarakat disarankan mengurangi aktivitas fisik di luar ruangan ketika asap sedang pekat.

Warga juga dapat melakukan beberapa langkah pencegahan, antara lain:

  • Mengurangi kegiatan di luar rumah ketika kualitas udara memburuk.

  • Menutup pintu dan jendela saat asap masuk ke lingkungan permukiman.

  • Menggunakan alat penyaring udara jika tersedia.

  • Memakai masker yang sesuai untuk mengurangi paparan partikel ketika harus beraktivitas di luar.

  • Segera mencari bantuan medis apabila mengalami sesak napas, nyeri dada, atau keluhan yang memburuk.

Masker biasa tidak selalu mampu menyaring partikel asap berukuran sangat kecil secara optimal. Karena itu, perlindungan perlu disesuaikan dengan kondisi udara dan anjuran petugas kesehatan.

Masyarakat sebaiknya mengikuti informasi kualitas udara dari instansi resmi serta tidak mengandalkan pengamatan visual semata untuk menentukan tingkat risiko.

Penanganan Kebakaran Tetap Menjadi Prioritas

Penyediaan bantuan oksigen membantu menangani sebagian dampak kesehatan, tetapi tidak menghentikan sumber pencemaran udara. Penanganan titik api dan pencegahan kebakaran tetap diperlukan untuk mengurangi paparan asap dalam jangka panjang.

Kebakaran hutan dan lahan dapat meluas ketika cuaca panas dan kondisi lahan kering mendukung penyebaran api. Kerusakan hutan dan lahan gambut juga dapat memperbesar dampak lingkungan serta memperpanjang masalah asap.

Pemerintah, petugas pemadam, aparat, dan masyarakat perlu bekerja sama mencegah pembakaran lahan serta melaporkan titik api sedini mungkin. Penegakan aturan terhadap pembakaran ilegal juga menjadi bagian penting dalam upaya pencegahan.

Sementara itu, warga di wilayah terdampak perlu terus memantau informasi resmi mengenai kualitas udara, layanan kesehatan, dan perkembangan penanganan kebakaran.

Perlindungan Kesehatan Perlu Berjalan Beriringan

Kasus asap karhutla di Kalimantan Tengah menunjukkan bahwa kebakaran lahan bukan hanya persoalan lingkungan, tetapi juga masalah kesehatan masyarakat.

Layanan bus oksigen dapat menjadi bantuan langsung bagi warga yang mengalami gangguan pernapasan. Namun, perlindungan yang lebih luas memerlukan penanganan kebakaran, pengendalian pencemaran, informasi kesehatan yang mudah diakses, dan dukungan bagi kelompok rentan.

Selama kualitas udara belum membaik, masyarakat diimbau mengutamakan keselamatan dan segera mencari pertolongan apabila muncul gejala serius.

Advertisement

Type and hit Enter to search

Close