CARIFAKTA.COM - Jakarta, Kementerian Pariwisata bersama Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) memperkuat kerja sama untuk meningkatkan keamanan pangan di desa wisata. Langkah ini dilakukan untuk mendorong layanan pariwisata yang berkualitas, aman, dan mampu memberikan pengalaman lebih baik bagi wisatawan.
Kolaborasi tersebut menjadi bagian dari upaya meningkatkan standar pelayanan di destinasi wisata, terutama yang menawarkan produk kuliner lokal sebagai salah satu daya tarik utama.
Keamanan pangan dinilai penting karena wisatawan tidak hanya mencari keindahan alam dan pengalaman budaya, tetapi juga membutuhkan makanan dan minuman yang aman dikonsumsi.
Informasi kerja sama tersebut disampaikan Kementerian Pariwisata pada Selasa (20/10/2026).
Keamanan Pangan Menjadi Bagian Penting Pariwisata
Desa wisata memiliki potensi besar dalam menggerakkan ekonomi masyarakat melalui berbagai kegiatan, mulai dari penyediaan penginapan, penjualan produk lokal, hingga penyajian makanan khas daerah.
Kuliner bahkan menjadi salah satu alasan wisatawan mengunjungi suatu destinasi. Namun, potensi tersebut perlu didukung dengan pengolahan makanan yang higienis, penyimpanan bahan pangan yang tepat, serta pemahaman mengenai keamanan produk yang disajikan.
Melalui penguatan kerja sama dengan BPOM, peningkatan pemahaman pelaku usaha mengenai keamanan pangan diharapkan dapat menjadi bagian dari perbaikan kualitas pelayanan wisata.
Upaya ini juga penting untuk membantu pelaku usaha lokal menjaga kepercayaan pengunjung terhadap produk kuliner yang mereka tawarkan.
Desa Wisata Didorong Memiliki Layanan Berkualitas
Pengembangan desa wisata tidak cukup hanya mengandalkan keindahan alam, tradisi, atau keunikan budaya setempat. Kualitas pelayanan dan kesiapan masyarakat dalam menerima wisatawan juga menjadi faktor penting.
Pengelola destinasi, pemilik homestay, pedagang makanan, dan pelaku usaha lainnya perlu memperhatikan kebersihan lingkungan serta kenyamanan pengunjung.
Standar pelayanan yang baik dapat membantu wisatawan menikmati perjalanan dengan lebih tenang. Pengalaman positif tersebut juga berpotensi mendorong wisatawan untuk kembali berkunjung dan merekomendasikan destinasi kepada orang lain.
Bagi masyarakat setempat, peningkatan kualitas layanan dapat membuka peluang usaha dan memperluas manfaat ekonomi dari aktivitas pariwisata.
Pariwisata Indonesia Catat Pertumbuhan Positif
Di tengah upaya meningkatkan kualitas destinasi, sektor pariwisata Indonesia juga mencatat pertumbuhan dalam jumlah perjalanan dan kunjungan wisatawan.
Kementerian Pariwisata melaporkan, Indonesia menerima 15,39 juta kunjungan wisatawan mancanegara sepanjang 2025. Angka tersebut meningkat 10,80 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Sementara itu, perjalanan wisatawan nusantara mencapai sekitar 1,2 miliar perjalanan pada 2025.
Tren tersebut berlanjut hingga Agustus 2026. Dalam periode tersebut, kunjungan wisatawan mancanegara mencapai 10,58 juta, tumbuh 5,38 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Perjalanan wisatawan nusantara tercatat sebanyak 842,15 juta perjalanan, meningkat 4,29 persen secara tahunan.
Data tersebut menunjukkan besarnya aktivitas perjalanan wisata di Indonesia. Namun, pertumbuhan jumlah wisatawan perlu diikuti dengan peningkatan mutu layanan, pengelolaan destinasi, dan perlindungan terhadap pengunjung.
Wisata Berkelanjutan Perlu Dukungan Masyarakat
Pengembangan desa wisata yang berkelanjutan membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, termasuk pemerintah, pengelola destinasi, pelaku UMKM, dan masyarakat setempat.
Selain menjaga keamanan pangan, pengelolaan sampah, perlindungan lingkungan, pelestarian budaya, dan pemanfaatan produk lokal juga perlu mendapat perhatian.
Wisatawan pun dapat berkontribusi dengan menjaga kebersihan, menghormati adat setempat, serta mendukung usaha masyarakat di destinasi yang dikunjungi.
Dengan pelayanan yang semakin baik dan pengelolaan yang bertanggung jawab, desa wisata diharapkan mampu meningkatkan daya saing sekaligus memberikan manfaat ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat.
