CARIFAKTA.COM – JAKARTA. Media sosial telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, mulai dari sarana berkomunikasi hingga tempat berbagi aktivitas dan pencapaian. Namun, kebiasaan melihat kehidupan orang lain secara terus-menerus dapat memengaruhi cara seseorang menilai dirinya sendiri.
Psikolog klinis Atharana Aliyya mengingatkan bahwa penggunaan media sosial secara berlebihan dapat membuat seseorang rentan mengalami penurunan kepercayaan diri karena terlalu sering membandingkan kehidupannya dengan apa yang dilihat di dunia maya.
Dalam keterangannya di Jakarta, Senin (26/10/2026), Atharana menjelaskan bahwa kemudahan mengakses informasi membuat seseorang mudah melihat pencapaian orang lain. Jika tidak disikapi dengan bijak, kebiasaan tersebut dapat memunculkan perasaan tertinggal atau merasa pencapaian pribadi belum cukup.
Karena itu, mengelola penggunaan media sosial menjadi bagian penting dalam menjaga keseimbangan kehidupan sehari-hari.
Terlalu Sering Membandingkan Diri Bisa Menguras Kepercayaan Diri
Unggahan mengenai pekerjaan, pendidikan, perjalanan, penampilan, hingga pencapaian pribadi kerap muncul di media sosial. Ketika melihat berbagai konten tersebut, sebagian orang mungkin tanpa sadar menjadikan kehidupan orang lain sebagai ukuran keberhasilan dirinya.
Padahal, apa yang ditampilkan di media sosial belum tentu menggambarkan keseluruhan kehidupan seseorang. Unggahan biasanya hanya memperlihatkan momen atau sisi tertentu, bukan seluruh proses, kesulitan, dan tantangan yang dihadapi.
Kebiasaan membandingkan diri secara terus-menerus dapat membuat seseorang sulit menghargai pencapaiannya sendiri. Hal-hal yang sebelumnya dianggap sebagai kemajuan bisa terasa tidak berarti ketika dibandingkan dengan kehidupan orang lain.
Atharana menyarankan agar seseorang lebih berfokus pada perkembangan diri dari waktu ke waktu. Perubahan positif, sekecil apa pun, patut diapresiasi selama membantu seseorang bertumbuh menjadi lebih baik.
Kenali Saatnya Beristirahat dari Media Sosial
Perubahan emosi dan perilaku dapat menjadi tanda bahwa seseorang perlu memberi waktu bagi dirinya untuk beristirahat. Misalnya, merasa lebih mudah cemas setelah membuka media sosial, terus memikirkan pencapaian orang lain, atau kehilangan semangat menjalani aktivitas sehari-hari.
Dalam kondisi seperti itu, mengambil jeda dari layar dapat menjadi salah satu langkah untuk menata kembali perhatian dan rutinitas.
Seseorang dapat mulai dengan mengurangi waktu membuka aplikasi, mematikan notifikasi yang tidak diperlukan, atau menghindari kebiasaan memeriksa ponsel ketika baru bangun tidur dan menjelang tidur malam.
Tidak semua orang harus berhenti menggunakan media sosial sepenuhnya. Hal yang lebih penting adalah mengenali dampaknya terhadap diri sendiri dan menetapkan batas penggunaan yang realistis.
Media sosial tetap dapat dimanfaatkan untuk belajar, bekerja, menjaga hubungan, dan mencari inspirasi selama pengguna mampu mengelolanya secara sehat.
Olahraga dan Pola Makan Seimbang Bantu Menjaga Keseimbangan
Selain mengatur penggunaan media sosial, menjaga rutinitas sehari-hari juga dapat membantu seseorang memperhatikan kesejahteraan dirinya.
Atharana menyebut olahraga rutin dan pola makan seimbang sebagai bagian dari gaya hidup sehat yang dapat dicoba. Aktivitas fisik tidak harus selalu berupa latihan berat di pusat kebugaran. Berjalan kaki, bersepeda, melakukan peregangan, atau mengikuti kelas olahraga sesuai kemampuan dapat menjadi pilihan.
Mengatur waktu tidur, menjalankan hobi, dan meluangkan waktu untuk berinteraksi secara langsung dengan keluarga atau teman juga dapat membantu menciptakan keseimbangan.
Bagi sebagian orang, kegiatan seperti yoga atau aktivitas rekreasi dapat menjadi cara untuk mengelola stres. Pilihan kegiatan sebaiknya disesuaikan dengan kebutuhan, kondisi tubuh, dan kenyamanan masing-masing.
Jika perasaan sedih, cemas, atau kehilangan minat berlangsung terus-menerus hingga mengganggu aktivitas, mencari bantuan tenaga profesional kesehatan mental merupakan langkah yang patut dipertimbangkan.
Hargai Proses, Bukan Hanya Pencapaian Orang Lain
Perkembangan teknologi membuat informasi dan kehidupan orang lain semakin mudah dijangkau. Kondisi ini dapat memberikan manfaat, tetapi juga menuntut kemampuan untuk memilah informasi dan menjaga batas pribadi.
Alih-alih menjadikan unggahan orang lain sebagai tolok ukur, seseorang dapat menetapkan tujuan berdasarkan kebutuhan dan kemampuannya sendiri. Kemajuan dalam pekerjaan, hubungan, kesehatan, maupun keterampilan dapat dinilai melalui perubahan yang nyata dalam kehidupan pribadi.
Mengapresiasi diri bukan berarti berhenti berkembang. Sebaliknya, sikap tersebut dapat membantu seseorang melihat kemajuan secara lebih proporsional tanpa terus-menerus merasa harus menyamai orang lain.
Pada akhirnya, media sosial hanyalah salah satu bagian dari kehidupan. Menjaga kesehatan mental membutuhkan perhatian terhadap rutinitas, hubungan sosial, kebutuhan pribadi, dan kemampuan mengenali kapan harus beristirahat.
