CARIFAKTA.COM – GAZA CITY, PALESTINA. Situasi keamanan di Jalur Gaza kembali menjadi perhatian dunia setelah serangan Israel pada Minggu (1/11/2026) dilaporkan menewaskan delapan orang, termasuk seorang anak laki-laki berusia empat tahun.
Laporan Associated Press (AP) menyebutkan, lima orang meninggal dunia akibat serangan di Khan Younis, Gaza selatan. Sementara tiga korban lainnya, termasuk anak berusia empat tahun, tewas dalam serangan di Kota Gaza.
Informasi mengenai korban disampaikan oleh Rumah Sakit Nasser dan Rumah Sakit Shifa yang menerima jenazah serta korban luka dari lokasi kejadian. Seorang perempuan juga dilaporkan mengalami luka serius dalam serangan di Kota Gaza.
Militer Israel menyatakan serangan tersebut menyasar sejumlah militan di Khan Younis serta seorang anggota Hamas di wilayah Gaza utara.
Korban Terus Berjatuhan Meski Ada Gencatan Senjata
Serangan terbaru ini menambah kekhawatiran terhadap kondisi warga sipil Palestina. Meskipun kesepakatan gencatan senjata yang dimulai pada Oktober 2025 telah mengurangi pertempuran berskala besar, serangan Israel dilaporkan masih terjadi hampir setiap hari.
Menurut data Kementerian Kesehatan Gaza yang dikutip AP, lebih dari 1.570 warga Palestina meninggal dunia sejak gencatan senjata dimulai. Sementara jumlah korban tewas secara keseluruhan dalam perang tersebut telah melampaui 74.500 orang.
Kementerian Kesehatan Gaza berada di bawah pemerintahan yang dikelola Hamas dan tidak membedakan jumlah korban sipil maupun kombatan dalam data yang disampaikan.
Di sisi lain, Israel menyatakan operasi militernya ditujukan kepada sasaran militan. Pemerintah Israel juga menuduh Hamas menggunakan warga sipil sebagai tameng manusia.
Upaya Diplomasi di Timur Tengah Masih Berlangsung
Di tengah situasi Gaza, upaya diplomasi untuk meredakan ketegangan di kawasan Timur Tengah juga terus berjalan. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyampaikan bahwa komunikasi dengan para mediator masih berlangsung untuk mencegah konflik kembali meluas.
Araghchi berharap Amerika Serikat memilih jalur diplomasi dibandingkan langkah militer. Ia menyatakan Iran tetap bersiap menghadapi berbagai kemungkinan, baik melalui perundingan maupun pertahanan.
Pembicaraan antara perwakilan Iran dan mediator Qatar turut membahas kemungkinan pembukaan kembali Selat Hormuz. Namun, proses tersebut masih bergantung pada sejumlah persyaratan yang diajukan masing-masing pihak.
Perkembangan di Gaza dan kawasan Timur Tengah menunjukkan bahwa stabilitas regional masih menghadapi tantangan besar. Perlindungan warga sipil, akses bantuan kemanusiaan, serta keberlanjutan gencatan senjata menjadi persoalan penting yang membutuhkan perhatian masyarakat internasional.
